Manusia lemah


Perjalanan yang sunyi dan terasing


“Dari banyak hal di dunia adalah bahaya yang mengerikan ketika kelahiran yang tidak menyenangkan menjadi suatu masalah setelah dewasa”


1
      Suatu pagi, kapan seorang lelaki itu punya mimpi? Dan saya bertanya apa pedulinya, bangun dari ranjang yang hanya sebentar menghilangkan beban masalah? Jeck kecil berasal dari rumah tua yang miskin, berlari-lari di--- halaman--- pinjaman saudagar kaya. menumpang disana sejak usiran dari keluarga besarnya. “Ohh, tidak!!" Katanya sambil menutupi kesedihannya. Kaki kecil yang mencakar impian itu? Kalau hanya dengan pakaian kusam dan buruk ini, jeck kecil sudah terasing oleh teman-temannya. “aku cemas ketika berumur 9 tahun. Ironis bukan?” “ibuku mengajariku satu hal, berkerja keraslah ketika kau dewasa, tak perlu kau memiliki angan-angan yang tinggi. Jika uang bisa membeli segalanya, kau bisa membayar mereka!”

Jangan meminta-minta kepada siapapun. Hanya pertolongan dari orang itu baik? Tidak! Disana ada maksud baik yang perlu di curigai.

Orang-orang di sekitar bagaikan satu kombinasi masalah dari mereka yang rendah yang di anggap sebagai kuman besar, juga beban masyarakat! Tapi. Jeck kecil tidak pernah meminta-minta! Itu dosa! Bisa saja jeck kecil itu lapar dengan perutnya yang kosong. Tak mengapa! Mungkin jeck kecil bisa menahannya. Satu hal yang membuat jeck kecil tidak bisa menahannya. Mainan di pertokoan. “saya bisa saja mencuri-nya dengan mudah! ---Ahh mengapa tidak!--- Tapi, ibuku mengajariku untuk tidak mencuri! Kau miskin itulah sehormat-hormat dirimu sebagai manusia yang tidak mencuri. Kau mengajari mereka, miskin bukanlah perbedaan status sosial yang rendah juga buruk. tapi, bagaimana kelakuan yang jujur di lingkungan masyarakat, itulah sikap harga dirimu!” dalam hati jeck kecil mengingat perkataan ibunya. 


Di masa jeck kecil, ia selalu memandang ke arah langit yang tinggi itu, “ada apa disana?” Ia bertanya-tanya, kalau yang di lihat oleh matanya hanyalah awan yang bergumpal menutupi matahari, dan burung-burung gereja yang terbang mengelilingi daerah tempat tinggalnya. “Apakah aku bisa terbang seperti burung gereja itu? Kenapa aku harus memilih burung gereja kecil itu? Bahkan tubuhku yang lebih besar darinya, tidak bisa terbang sebebas itu.” ucap jeck kecil 





2
Jeck kecil tidak ingin menjadi manusia yang tidak bebas. ia ingin menjadi burung gereja kecil yang bebas--- terbang di angkasa yang berani melawan angin!

Mata jeck kecil berkaca muram- “ohh, tuhan! Jika tubuh kecilku sudah dewasa apakah aku bisa--- terbangun di waktu Minggu yang menggembirakan?"
Jeck kecil kembali ke jendela arah selatan. Ohh, sikap ayah dengan tempramen keras. ibu pernah bercerita kepada jeck kecil. Kalau dulu, ayahnya orang yang paling kaya di kota kecil. Karena kebangkrutan itulah yang membuat dirinya menganggur dan sulit mendapatkan perkerjaan. Ia menjadi tempramen yang paling bahaya. terhadap anak-anaknya terutama kepada jeck kecil. Ia merendahkan padangan matanya dari ayahnya. “Jeck nakal, darimana saja kau!” nada keras yang terlontar di hadapan jeck kecil. Ia hanya diam dan menundukkan kepalanya. “Ahh! Dasar anak malas! Apa gunanya kau bermain?! Lihat? Ibu. anak satu kau ini, mau jadi apa dia--- besar--- nanti?! Haaa! Mau jadi apa kau!! Layangan Nada keras dari bentakan ayahnya.”

Jeck kecil hanya diam--- diam---diam. Jika menjawab habislah! Habislah! Lebih baik diam. “tak mau menjawab?" Ibu jeck mencoba meredahkan kemarahannya “sudalahlah yah! Tenang. Ia masih kecil. Jangan di marahi terus seperti itu." Jeck kecil menangis dalam hatinya, ia berucap “apakah aku harus membenci mereka semua?rasanya Ini tidak adil bagiku masa kanak-kanakku kenapa jadi alasan kemarahan ayahku, akibat kebangkrutan usaha yang tidak ada sangkut pautnya dalam kehidupanku, ini adalah penindasan bagiku”




3
Ketika Jeck kecil lahir, ia mengirakan itu. Tentu kelahirannya adalah pilihan kedua orang tuanya, dan jeck kecil berhak menentukan jalan takdir dan hidupnya sendiri. Ia merasakan kebebasan burung-burung gereja itu. 
Sejak keterasingan, jeck kecil adalah masalah bagi keluarga dan teman temannya. Ia mengunjungi kebebasan yang terkunci sejak masa kecilnya, tidak ada sayap yang jeck kecil miliki, tapi keyakinan membuatnya percaya akan satu hal, kehidupan! Akan tumbuh bersama kebebasan. Tapi, tak semudah apa yang di pikirkan, apakah aku harus melompat untuk belajar terbang? Di atas bukit dan di bawahnya adalah jurang yang dalam. Tidak! Lompatan berarti mengungguli sebuah proses, penciptaan perlu kesabaran, dan kesabaran! Kalau ia menginginkan keindahan yang mutlak.

Tuhan yang agung! Tumbuh perlahan di jiwa, tubuhku terbang tanpa sayap burung ataupun malaikat! Aku terasing di kegelapan, tapi! Kekhawatiranku tumbuh di hadapannya. Cahaya kecil membawaku kesabaran! Untuk hidup dan menyebarkannya. Doa ini mungkin tak terdengar ke siapapun. Sekali lagi ia berkata “apa peduli mereka?" Ia menangis di sudut ruangan kecil. disana, jiwanya tertekan---tanpa suara---ia menderita!



4
Keinginan untuk pergi menjauh dari segala tekanan dan peraturan sudah ia pikirkan sejak berusia 14 tahun. ia tahu kecemasannya, tragedi yang tersembunyi, bahkan orang-orang tidak mengetahuinya--- seorang lelaki kecil yang menderita! Ia terganggu dengan pukulan tangan! Tiap jam! Ketika menolak perintah yang tak masuk akal! Apakah ibu tidak melindungi binatang kecil itu. Kekejaman terhadap jeck kecil yang di lakukan ayahnya membuat ia trauma, ia ingin mengakhiri hidupnya! Namun, di ruang kecil yang tadi. Ia bercerita tentang Tuhan! Mereka yang terlalu mencintai dunia terhadap materialisme yang sangat menakutkan dan menjadikan mereka kapitalis, yang biadab terhadap keluarganya sendiri?! Ia mengingat semua kenangan itu, semasa kehidupannya, adalah tragedi yang ia tulis.




Bab II


5
“Kepada temanku danuarna. Kini, usiaku sudah dua puluh tiga tahun. Tak usah kau mengingat tragedi kecilku itu! Simpan saja dalam kenangan yang manis, aku menanamkan bunga mawar yang indah di pekarangan makam tua itu. Mungkin suatu saat nanti; kau ingin melihatnya tumbuh. sebagai pengganti kuburku yang baru."
Kedewasaan ini, sangat memuak'kan bagiku. Alasan demi alasan, menghantam kepalaku di batu yang keras. ada pula menetap untuk menentang, jeck kecil sudah dewasa! Ia harus melanjutkan pekerjaan kerasnya! Oh, kiranya begitu, jam kerja---yang---tak masuk akal, dengan gaji yang tidak menentu. memaksaku menjadi binatang ternak! Aku tertangkap, sekarang, aku bukanlah lagi burung gereja yang bebas! Semaunya, pulang ke sangkar. Sekarang aku adalah burung murai yang cantik. terkurung! Di sangkar bos dari atasanku. Mereka memerintah semaunya, jika tidak menuruti perintahnya, aku terancam! ---pecat---
Oh, jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Shiff malam telah berakhir. Kegiatanku sehari-hari adalah mesin. Terus beroperasi dua belas jam tanpa henti. Mengeluh? Dengan siapa aku mengeluh? Kau tahu kan jam istirahatku adalah tidur yang sebentar. 
Bagaimana aku bisa menulis? Waktuku telah di tindas!
Impianku hanyalah batasan jam kerja sekarang. 
Tuntutan kedua orang tua Menghantuiku! Budaya berkerja adalah untuk mendapatkan uang! Bukan mendapatkan kehidupan yang mulia. Mungkin itulah masalahnya---
Bahkan mereka yang telah sarjana dengan pendidikan yang paling tinggi, apakah bisa mempertanggung jawabkan ilmu yang mereka dapatkan untuk orang lain? Mungkin tidak! Cari aman saja, jadilah pegawai. Rumah mewah, Mobil Mercedes, keluarga bahagia, adalah Impian semua para sarjana. 



6
“Orang-orang miskin setidaknya tahu diri! Sudah tahu mencari pekerjaan itu susah.” 
Itulah ucapan dari temanku yang satu kerjaan dengan diriku. ia penjilat ulung. Lidahnya mengemis. Banyak yang menjauh darinya. Ia lupa darimana dia berasal--- setidaknya kelaparan menuntutnya untuk menjilat dan memakan bangkai temannya sendiri!









 






Komentar